Teori

22 Apr

TEORI BEHAVIORISME

– menganalisa hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan   diramalkan.

-Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar.

. Behaviorisme tidak mau memperoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan

– Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus). Prinsip-prinsip teori behaviorisme

– Objek  psikologi adalah tingkah laku

– semua bentuk tingkah laku di kembalikan pada reflek

– mementingkan pembentukan kebiasaan

Edward Edward Lee Thorndike (1874-(1874-1949))

Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut teori “connectionism”. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, adal eliminasai terhadap berbagai respon yang salah, ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan. Thorndike menemukan hukum-hukum.

Hukum kesiapan (Law of Readiness)

Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosaiasi cenderung diperkuat.

Hukum latihan

Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat.

Hukum akibat

Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibanya tidak memuaskan.

Ivan Petrovich Pavlo (1849-1936)

Teori pelaziman klasik

Adalah memasangkan stimuli yang netral atau stimuli yang terkondisi dengan stimuli tertentu yang tidak terkondisikan, yang melahirkan perilaku tertentu. Setelah pemasangan ini terjadi berulang-ulang, stimuli yang netral melahirkan respons terkondisikan.

Pavlo mengadakan percobaan laboratories terhadap anjing. Dalam percobaan ini anjing di beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh situasi percobaan tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang berbeda dari pedagang makan, bel masuk, dan antri di bank. Dari contoh tersebut diterapkan strategi Pavlo ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Sementara individu tidak sadar dikendalikan oleh stimulus dari luar. Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.

Skinner (1904-1990)

Skinner menganggap reward dan rierforcement merupakan factor penting dalan belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal mengontrol tingkah laku. Pda teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. . Operans conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operans yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan.

Operant conditing menjamin respon terhadap stimuli.Bila tidak menunjukkan stimuli maka guru tidak dapat membimbing siswa untuk mengarahkan tingkah lakunya. Guru memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa dalam proses belajar sehingga tercapai tujuan yang diinginkan

Prinsip belajar Skinners adalah :

– Hasil belajar harus segera diberitahukan pada siswa jika salah dibetulkan jika benar diberi penguat.

– Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Materi pelajaran digunakan sebagai sistem modul.

– Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri, tidak digunakan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah untuk menghindari hukuman.

– Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable ratio reinforcer.

– dalam pembelajaran digunakan shapping

Albert Bandura (1925-sekarang)

Ternyata tidak semua perilaku dapat dijelaskan dengan pelaziman. Bandura menambahkan konsep belajar sosial (social learning). Ia mempermasalahkan peranan ganjaran dan hukuman dalam proses belajar. Kaum behaviorisme tradisional menjelaskan bahwa kata-kata yang semula tidak ada maknanya, dipasangkan dengan lambak atau obyek yang punya makna (pelaziman klasik).

Teori belajar Bandura adalah teori belajar social atau kognitif social serta efikasi diri yang menunjukkan pentingnya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap dan emosi orang lain. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi tingkah laku timbale balik yang berkesinambungan antara kognitine perilaku dan pengaruh lingkungan. Factor-faktor yang berproses dalam observasi adalah perhatian, mengingat, produksi motorik, motivasi.

Behaviorsime memang agak sukar menjelaskan motivasi. Motivasi terjadi dalam diri individu, sedang kaum behavioris hanya melihat pada peristiwa-peristiwa eksternal. Perasaan dan pikiran orang tidak menarik mereka. Behaviorisme muncul sebagai reaksi pada psikologi ”mentalistik”.

Kurikulum TABA

22 Apr

KURIKULUM

KURIKULUM

Frank Bobbit (1918), dalam buku ‘The Curriculum’ menghuraikan kurikulum sebagai :

1. keseluruhan pengalaman, yang tak terarah dan terarah, terumpu kepada perkembangan kebolehan individu

2. satu siri latihan pengalaman langsung secara sedar digunakan oleh sekolah untuk melengkap dan  menyempurnakan pendedahannya. Konsep beliau menekankan kepada pemupukan perkembangan individu melalui segala pengalaman termasuk pengalaman yang dirancangkan oleh sekolah.

Definisi kurikulum

Kurikulum ialah spesifikasi yang bertujuan untuk

mengkomunikasikan keperluan dan kandungan untuk suatu

cadangan pendidikan dalam bentuk yang boleh diterjemahkan secara berkesan dalam praktikal. (Stenhouse, 1971)

Soalan penting

• Apakah langkah yang diambil untuk menggubal kurikulum?

• Bagaimanakah kurikulum digubal?

• Apakah elemen-elemen dalam penggubalan kurikulum dan

bagaimanakah elemen-elemen tersebut berhubung dengan yang

lain secara konseptual?

Mengikut Akta Pendidikan 1996; Pendidikan (Peraturan Kurikulum Kebangsaan, 1997 ) mendefinisikan

Kurikulum Kebangsaan sebagai :

‘program pendidikanyang merangkumi aktiviti kurikulum dan kokurikulum yang mencakupi semua ilmu pengetahuan, kemahiran, norma, nilai, elemen budaya dan kepercayaan untuk membantu mengembangkan murid sepenuhnya dari aspek fizikal, rohani, mental dan emosi serta memupuk dan memperkembangkan nilai murni yang diingini serta untuk menyebarkan ilmu pengetahuan’

Sesuatu teori Kurikulum kurikulum mesti menyentuh aspek-aspek berikut:

1. Kurikulum sebagai unsur budaya/ ilmu pengetahuan

? Teori Kurikulum harus mempunyai ulasan tentang apakah unsur budaya/ ilmu pengetahuan yang hendak dikenalpasti.

? Apakah yang ingin diajar?

2. Kurikulum ialah untuk kumpulan pelajar tertentu

? Teori Kurikulum harus menguraikan kumpulan pelajar yang dibenarkan mempelajari mata pelajaran tertentu.

? Siapakah yang diajar?

3. Kurikulum membantu guru/pendidik mengajar

? Teori Kurikulum harus mempunyai ulasan tentang apakah unsur  budaya/ ilmu pengetahuan yang gunakan oleh guru.

? Harus menyatakan reka bentuk kurikulum

? Tujuan, matlamat, objektif, isi kandungan…

• Apakah reka bentuk kurikulum?

4. Konteks sosial, politik, ekonomi sentiasa berubah

? Teori kurikulum harus menghuraikan cara unsur budaya/ ilmu

pengetahuan yang menyebabkan kurikulum berubah-ubah

merentasi masa.

? Teori kurikulum harus menghuraikan perkembangan kurikulum

Bagaimana perubahan masyarakat mempengaruhi perubahan

kurikulum.

Konsep Umum Kurikulum

Konsep kurikulum dapat dijelaskan dengan lebih baik lagi melalui cara bagaimana sekolah menjawab sembilan soalan kurikulum yang berikut ini :

1. Apakah yang harus diajar ?

2. Kepada siapa ia harus diajar ?

3. Mengapa ia harus diajar ?

4. Bagaimana ia harus diajar ?

5. Bila (berapa lama dan bagaimana susunannya?) harus ia diajar?

6. Bagaimana kita harus tahu bahawa pembelajaran telah berlaku?

7. Apakah sumber yang akan digunakan (buku teks, bahan, video dll)?

8. Dalam keadaan bagaimanakah kurikulum akan dilaksanakan? Apakah kumpulan (kooperatif, homogenous, individu) yang akan digunakan

9. Apakah aspek situasi bilik darjah (susunan meja kerusi,ekologi bilik darjah) yang akan digambarkan dalam kurikulum?

Reka Bentuk Kurikulum mengikut Tyler, Taba dan Stenhouse

Ralph tyler

• Pengaruh penting dari 1949

Empat soalan mesti dijawab semasa menggubal kurikulum.

1. Apakah tujuan pendidikan yang ingin dicapai?

2. Apakah pengalaman pendidikan untuk mencapai tujuan

pendidikan ?

3. Bagaimanakah pengalaman pendidikan disusun?

4. Adakah tujuan pendidikan telah dicapai?

Hilda taba

• Penggubalan kurikulum haruslah sistematik, objektif, saintifiik dan

berorientasi penyelidikan

• Andaian pembelajaran tujuan penting bagi sekolah

• “curricula are designed so that students may learn”

• Lebih preskriptif daripada tyler

Taba mencadangkan tujuh langkah semasa menggubal kurikulum.

• Urutan 7 langkah

1. Diagnosis keperluan

2. Pembentukan objektif

3. Pemilihan isi kandungan

4. Penyususunan isi kandungan

5. Pemilihan pengalaman pembelajaran

6. Penyususunan pengalaman pembelajaran

7. Penentuan apa yang dinilai dan caranya

Model Stenhouse

– Kurikulum ialah satu proses.

– Kurikulum berkaitan dengan interaksi antara guru, pelajar dan

ilmu.

– Kurikulum ialah sesuatu yang berlaku dalam bilik darjah.

– Digunakan sebagai panduan penyediaan pengajaran.

– Pembelajaran ialah spesifikasi tentang amalan pengajaran

– Pembelajaran adalah berpusat kepada murid.

– Proses pembelajaran merupakan tugas utama guru.

Jenis-Jenis Kurikulum

1. Kurikulum formal ialah rancangan di mana aktiviti pembelajaran dijalankan supaya matlamat atau objektif pendidikan dan sekolah tercapai. Ia merupakan satu set dokumen untuk dilaksanakan. Ia mengandungi hal sebenar yang berlaku dibilik darjah dan apa yang telah disediakan dan dinilai. Setiap sekolah ada kurikulum terancang iaitu satu set

objektif yang berstruktur dengan kandungan dan pengalaman belajar serta hasil yang dijangkakan. Ia merupakan rancangan eksplisit dan operasional yang dihasratkan, lazimnya dikelolakan mengikut mata pelajaran dan gred, di mana peranan guru didefinisikan dengan jelas (Ornstein, A.C. & Hunkins, F, 1983)

2. Kurikulum tersembunyi adalah sesuatu yang tidak terancang dan tidak formal. Ia mungkin disebut sebagai kurikulum ”tak rasmi” atau ”terlindung” atau ”tak formal”.

Kurikulum ini dikelolakan di luar konteks pengajaran rasmi. Ia merupakan perlakuan dan sikap yang dibawa kedalam bilik darjah dan sekolah tanpa disedari dan disebut kerana tidak dinyatakan secara eksplisit. Ia terdiri dari peraturan tidak bertulis, konvokesyen, adat resam dan nilai budaya. Ia dibentuk oleh faktor-faktor seperti status sosioekonomi dan latar belakang pengalaman guru dan murid.

Faktor-faktor yang menyumbang kepada kejayaan kurikulum

1 Amalan P&P

2 Kegiatan kokurikulum

3 Perkongsian bestari

4 Budaya

5 Bahan P&P

6 Tenaga Pengajar

7 Kewangan

Huraian ringkas yang berikut membolehkan anda membezakan antara pelbagai jenis kurikulum.

Kurikulum Bertulis/Yang Dihasratkan

  • kurikulum yang dimuatkan dalam panduan kurikulum negeri dan daerah seperti Kurikulum Kebangsaan iaitu KBSR/KBSM/Kurikulum Pra-Sekolah

Kurikulum Cadangan

o kurikulum yang dicadangkan oleh pakar-pakar pendidik, pertubuhan profesional,suruhanjaya pembentuk dan pembuat dasar

Kurikulum Masa Depan

– merangkumi pendekatan berpusatkan murid yang membolehkan mereka memahami kekuatan dan kelamahan masing-masing serta berupaya belajar sepanjang hayat

4. Model Kurikulum

Terdapat pelbagai model kurikulum yang dibincangkan oleh Raplh Tyler (1949), Hilda Taba (1966) , Stenhouse (1975) dan Stake (1976).

a) Model Perkembangan Tyler

Berdasarkan 4 persoalan asas

i) Apakah tujuan pendidikan yang perlu dicapai oleh sekolah?

ii) Apakah pengalaman pendidikan yang boleh diberikan yang mungkin

dapat mencapai tujuan tersebut ?

iii) Bagaimanakah pengalaman pendidikan ini boleh disusun secara

berkesan?

iv) Bagaimanakah dapat kita tentukan sama ada tujuan ini boleh dicapai atau sebaliknya?

Penekanan pada pembentukan objektif tingkah laku sebagai tujuan sebenar pendidikan bukanlah untuk guru melakukan sesuatu aktiviti tetapi untuk membawa perubahan signifikan dalam pola tingkah laku murid. Adalah penting untuk mengenal pasti bahawa sebarang pernyataan objektif sekolah adalah merupakan pernyataan perubahan yang berlaku dikalangan murid

Adalah sistematik dan memberi panduan yang kukuh untuk menentukan objektif tingkah laku dan menyediakan hasilan yang jelas supaya kandungan kurikulum dan kaedah penyampaian dapat disusun dan hasilannya boleh dinilai.

4. Model Kurikulum

Terdapat pelbagai model kurikulum yang dibincangkan oleh Raplh Tyler (1949), Hilda Taba (1966) , Stenhouse (1975) dan Stake (1976).

a) Model Perkembangan Tyler

Berdasarkan 4 persoalan asas

i) Apakah tujuan pendidikan yang perlu dicapai oleh sekolah?

ii) Apakah pengalaman pendidikan yang boleh diberikan yang mungkin

dapat mencapai tujuan tersebut ?

iii) Bagaimanakah pengalaman pendidikan ini boleh disusun secara

berkesan?

iv) Bagaimanakah dapat kita tentukan sama ada tujuan ini boleh dicapai atau sebaliknya?

Penekanan pada pembentukan objektif tingkah laku sebagai tujuan sebenar pendidikan bukanlah untuk guru melakukan sesuatu aktiviti tetapi untuk membawa perubahan signifikan dalam pola tingkah laku murid. Adalah penting untuk mengenal pasti bahawa sebarang pernyataan objektif sekolah adalah merupakan pernyataan perubahan yang berlaku dikalangan murid

Adalah sistematik dan memberi panduan yang kukuh untuk menentukan objektif tingkah laku dan menyediakan hasilan yang jelas supaya kandungan kurikulum dan kaedah penyampaian dapat disusun dan hasilannya boleh dinilai.

b) Model Perkembangan Taba

Kurikulum sebagai rancangan untuk bertindak

Pendekatan bawah keatas (bottoms-up) terhadap kurikulum di mana guru memainkan peranan utama. Peraturan tertentu untuk membina kurikulum dan guru harus membantu dalam proses perkembangannya

7 langkah dalam perkembangan kurikulum adalah :

i) mendiagnosis keperluan

ii) pembentukan objektif

iii) pemilihan kandungan

iv) pengurusan kandungan

v) pemilihan pengalaman pembelajaran

vi) pengelolaan aktiviti pembelajaran

vii) penilaian

b) Model Perkembangan Taba

Kurikulum sebagai rancangan untuk bertindak

Pendekatan bawah keatas (bottoms-up) terhadap kurikulum di mana guru memainkan peranan utama. Peraturan tertentu untuk membina kurikulum dan guru harus membantu dalam proses perkembangannya

7 langkah dalam perkembangan kurikulum adalah :

i) mendiagnosis keperluan

ii) pembentukan objektif

iii) pemilihan kandungan

iv) pengurusan kandungan

v) pemilihan pengalaman pembelajaran

vi) pengelolaan aktiviti pembelajaran

vii) penilaian

c) Model Perkembangan Stenhouse

Kurikulum sebagai satu proses

Kurikulum bukan berbentuk fizikal tetapi berkaitan dengan interaksi guru, murid dan ilmu.

Kurikulum adalah perkara sebenar yang berlaku dalam bilik darjah dan dilakukan oleh seseorang untuk membuat persediaan dan penilaian. Proses yang aktif dan dihubungkaitkan dengan set penaakulan praktikal Aristotle Cubaan penyampaian prinsip-prinsip dan ciri-ciri pendidikan dalam satu bentuk terbuka

untuk penilitian kritis dan boleh diterjemahkan kebentuk prakital Perlu penyediaan asas untuk merancang sesuatu kursus , mengkaji secara emperikal dan mempertimbangkan alasan secara praktikal. Ia harus menawarkan :

a) Perancangan

– prinsip pemilihan kandungan – apa yang perlu diajar dan dipelajari

– prinsip perkembangan startegi pengajaran – bagaimana ia dipelajari dan diajar

– prinsip membuat keputusan tentang urutan

– panduan untuk guru bagi kesesuaian untuk melaksanakan kurikulum dalam pelbagai konteks

– maklumat tentang kepelbagaian kesan dalam konteks yang berbeza

c) Model Perkembangan Stenhouse

Kurikulum sebagai satu proses

Kurikulum bukan berbentuk fizikal tetapi berkaitan dengan interaksi guru, murid dan ilmu.

Kurikulum adalah perkara sebenar yang berlaku dalam bilik darjah dan dilakukan oleh seseorang untuk membuat persediaan dan penilaian. Proses yang aktif dan dihubungkaitkan dengan set penaakulan praktikal Aristotle Cubaan penyampaian prinsip-prinsip dan ciri-ciri pendidikan dalam satu bentuk terbuka

untuk penilitian kritis dan boleh diterjemahkan kebentuk prakital Perlu penyediaan asas untuk merancang sesuatu kursus , mengkaji secara emperikal dan mempertimbangkan alasan secara praktikal. Ia harus menawarkan :

a) Perancangan

– prinsip pemilihan kandungan – apa yang perlu diajar dan dipelajari

– prinsip perkembangan startegi pengajaran – bagaimana ia dipelajari dan diajar

– prinsip membuat keputusan tentang urutan

– panduan untuk guru bagi kesesuaian untuk melaksanakan kurikulum dalam pelbagai konteks

– maklumat tentang kepelbagaian kesan dalam konteks yang berbeza

Kurikulum adalah rancangan untuk pembelajaran. Semua rancangan mengandungi visi yang mentakrifkan nilai sosial dan struktur yang diterjemahkan ke dalam pengalaman.

Perkembangan kurikulum ialah proses yang dinilainya diterjemah dan disusun ke dalam pengalaman pembelajaran.

Perkembangan kurikulum, sebagai satu proses , merupakan putaran asas yan mengandungi :menganalisis, mereka bentuk, melaksanakan dan menilai. Proses ini digunakan di semua peringkat dalam pembentukan konsep dan menyepadukan semua usaha untuk meningkatkan kualiti program persekolahan.

Kurikulum ialah segala pengalaman pembelajaran yang dirancang dan diarahkan oleh sebuah sekolah untuk mencapai matlamat pendidikan. Dibawah kurikulum akademik, terdapat pelbagai jenis kurikulum, seperti kurikulum integrasi, teras dan aktiviti atau pengalaman yang dapat digabungkan untuk membentuk kurikulum formal..

Kurikulum adalah rancangan untuk pembelajaran. Semua rancangan mengandungi visi yang mentakrifkan nilai sosial dan struktur yang diterjemahkan ke dalam pengalaman.

Perkembangan kurikulum ialah proses yang dinilainya diterjemah dan disusun ke dalam pengalaman pembelajaran.

Perkembangan kurikulum, sebagai satu proses , merupakan putaran asas yan mengandungi :menganalisis, mereka bentuk, melaksanakan dan menilai. Proses ini digunakan di semua peringkat dalam pembentukan konsep dan menyepadukan semua usaha untuk meningkatkan kualiti program persekolahan.

Kurikulum ialah segala pengalaman pembelajaran yang dirancang dan diarahkan oleh sebuah sekolah untuk mencapai matlamat pendidikan. Dibawah kurikulum akademik, terdapat pelbagai jenis kurikulum, seperti kurikulum integrasi, teras dan aktiviti atau pengalaman yang dapat digabungkan untuk membentuk kurikulum formal..

Kemahiran kompetensi

22 Apr

Competency Based Education.

Pendidikan dan Latihan Berasaskan Kompetensi
Pengenalan

  • Kemahiran generik yang disatukan dalam kemahiran-kemahiran khusus dan spesifik yang diperlukan di tempat kerja dijelmakan dalam pendidikan berasaskan kompetensi berupaya menjadikan individu/pelajar itu lebih ‘bernilai‘ di peringkat tempatan dan antarabangsa.
  • Standard kompetensi yang ditetapkan dan perlu dicapai oleh individu/pelajar ini adalah standad yang ditetapkan oleh industri berkenaan untuk memenuhi keperluan kemahiran industri tertentu.
  • Pendekatan pendidikan berasaskan kompetensi adalah sangat berkesan digunakan bagi pendidikan yang bermatlamatkan melahir dan melatih individu/pelajar dalam aspek kemahiran berkaitan pekerjaan (job related skills) dan menguji aspek nilai dan sikap.

Ciri-ciri Pendidikan dan Latihan Berasaskan Kompetensi

Dalam usaha untuk memeprkenalkan program pendidikan dan latihan berasaskan kompetensi, beberapa ciri utama pendidikan dan latihan berasaskan kompetensi seperti yang disarankan oleh Foyster (1990), Delker (1990) dan Norton (1987) perlu dipertimbangkan iaitu:

  1. Kompetensi dikenal pasti dan dipilih dengan teliti mengikut keperluan industri
  2. Teori diintegrasikan dengan kemahiran. Pembelajaran pengetahuan disampaikan untuk menyokong pelaksanaan dan pencapaian kemahiran
  3. Bahan pembelajaran disediakan dengan teliti untuk mencapai kompetensi yang ditetapkan dan direkabentuk untuk memperoleh pengetahuan yang menyokong kepada penghasilan kemahiran
  4. Kaedah pembelajaran (instructional methodology) melibatkan pembelajaran masteri (pengetahuan) dan kontekstual (kemahiran) dan dijalankan sehingga seseorang individu/pelajar berkenaan menguasai pengetahuan dan kemahiran yang mencukupi dan sewajarnya
  5. Pentaksiran terhadap pencapaian pengetahuan dan kemahiran individu dijalankan pada awal pembelajaran dan penguasaan pembelajaran dan kemahiran terdahulu diambil kira bagi menyokong pembelajaran yang sedang berjalan
  6. Pembelajaran mengikut kadar kebolehan individu/pelajar
    (self-paced)
  7. Pembelajaran dan latihan dijalankan dengan fleksibel melalui aktiviti pembelajaran dalam kumpulan yang besar, kecil atau secara individu
  8. Bahan dan sumber pembelajaran sokongan mencukupi dan disediakan untuk mencapai kompetensi
  9. Prestasi individu/pelajar ditentukan melalui pencapaian kompetensi yang diperoleh dibandingkan dengan penyataan criteria yang ditetapkan
  10. Pencapaian kompetensi dilaporkan berdasarkan kepada standad kompetensi yang ditetapkan sama ada ‘telah kompetenatau ‘belum kompeten‘.
  11. Penamatan pembelajaran dan latihan yang memuaskan adalah berdasarkan pencapaian semua kompetensi yang ditentukan melalui eviden pentaksiran kompetensi yang dikumpul sepanjang proses pendidikan dan latihan dijalankan.

Integrasi Kompetensi dalam Kurikulum Pendidikan dan Latihan Teknik Vokasional Berasaskan Kompetensi

  1. Pendekatan pembelajaran kontekstual amat sesuai digunakan dalam proses pengajaran dan pembelajaran.
  2. Pengetahuan yang dikaitkan dengan kemahiran di tempat kerja membolehkan individu/pelajar memahami dan melihat bagaimana pengetahuan berkenaan diaplikasikan. Ini bermakna kurikulum yang mengintegrasikan kompetensi perlu menyediakan objektif pembelajaran yang dihasratkan (expected learning objective) dalam situasi sebenar.
  3. Objektif pembelajaran ini kemudiannya dijelmakan menjadi hasil pembelajaran (learning outcomes) melalui kompetensi-kompetensi yang dicapai. Oleh itu, organisasi/pihak sekolah perlu menyediakan individu/pelajar dengan peluang-peluang untuk mengaplikasikan ilmu dalam persekitaran sebenar (real-life situation) menggunakan model atau simulasi secara meluas.

Definition Of CBE/Definisi CBE.

Pendidikan Berasaskan Kompetensi memfokuskan pada hasil pembelajaran. CBE

alamat apa peserta didik diharapkan untuk lakukan, bukan pada apa yang mereka
diharapkan untuk belajar tentang. CBE muncul di Amerika Syarikat pada 1970-an
dan merujuk pada gerakan pendidikan yang mendefinisikan pendidikan advokat
tujuan dalam hal keterangan terukur tepat pengetahuan, kemahiran, dan
perilaku pelajar harus mempunyai pada akhir suatu program studi.

= Richards and Rodgers

™  Competency Based Education focuses on outcomes of learning.  CBE addresses what the learners are expected to do rather than on what they are expected to learn about.  CBE emerged in the United States in the 1970s and refers to an educational movement that advocates defining educational goals in terms of precise measurable descriptions of knowledge, skills, and behaviors students should possess at the end of a course of study. „  Richards and Rodgers

Pendidikan Berbasis Kompetensi adalah hasil pembelajaran berasaskan dan adaptif dengan perubahan keperluan pelajar, guru, dan masyarakat. Kompetensi menggambarkan kemampuan pelajar untuk melaksanakan kemahiran asas dan lain-lain dalam situasi yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Jadi CBE didasarkan pada seperangkat hasil yang berasal dari analisis tugas biasanya diperlukan peranan pelajar dalam situasi kehidupan

™  Competency Based Education is outcome based instruction and is adaptive to the changing needs of students, teachers, and the community.  Competencies describe the student’s ability to apply basic and other skills in situations that are commonly encountered in everyday life.  Thus CBE is based on a set of outcomes that are derived from an analysis of tasks typically required of students in life role situations. „  Schenck

Pendidikan Berbasis Kompetensi adalah pendekatan fungsional untuk pendidikan yang
menekankan kemahiran hidup dan menilai penguasaan kemahiran mengikut aktual lebih ramping prestasi. Hal ini ditakrifkan oleh U. S. Pejabat Pendidikan sebagai
proses “yang berpusat prestasi yang mengarah ke penguasaan menunjukkan dasar dan kemahiran hidup yang diperlukan bagi individu untuk fungsi mahir dalam masyarakat ”

 ™  Competency Based Education is a functional approach to education that emphasizes life skills and evaluates mastery of those skills according to actual leaner performance.  It was defined by the U.S. Office of Education as a “performance-based process leading to demonstrated mastery of basic and life skills necessary for the individual to function proficiently in society” (U.S. Office of Education, 1978). „  Savage

Kompetensi terdiri daripada keterangan kemahiran penting, pengetahuan, sikap, dan perilaku yang diperlukan untuk prestasi yang berkesan dari dunia nyata tugas atau kegiatan. Kegiatan ini mungkin berkaitan dengan setiap bidang kehidupan, meskipun telah biasanya dikaitkan dengan bidang pekerjaan dan untuk kelangsungan hidup sosial
dalam persekitaran baru.

™  Competencies consist of a description of the essential skills, knowledge, attitudes, and behaviors required for effective performance of a real-world task or activity.  These activities may be related to any domain of life, though have typically been linked to the field of work and to social survival in a new environment. „  Mrowicki

Kompetensi merupakan kemahiran penting bahawa orang dewasa perlu menjadi ahli berjaya keluarga, masyarakat, dan di tempat kerja.

™  Competencies are essential skills that adults need to be successful members of families, the community, and the workplace. „  CASAS

4 aliran falsafah

22 Apr

IDEALISM

Idealism ialah sistem yang menegaskan pentingnya fikiran, jiwa dan kerohanian. Seseorang boleh menjadi baik melalui pendidikan pengetahuan tulen tidak berbentuk material tetapi intelektual yang abadi. Kanak-kanak akan dipaksa untuk membentuk kesabaran dan keberanian. Setiap kanak-kanak mempunyai bakat yang melayakkan mereka menjadi pelbagai jenis pekerja.. asas reality adalah akal. Sebarang benda wujud pada dasarnya adalah mental dan akal sahaja bukan fizikal. Reality mental adalah personal. Epistemology adalah keluarkan idea semulajadi yang sudah ada dalam akal. Cabaran pengajaran pembelajaran adalah untuk mengeluarkan pengetahuan ini. Pengetahuan sebenar adalah basil taakulan sahaja kerana taakulan dapat memperlihatkan kerohanian sebenar.

Pengetahuan lebih baik dikeluarkan daripada dicurahkan iaitu untuk merangsang pelajar mengeluarkan idea sendiri. Aksiologi pula ialah nilai adalah mutlak,tidak berubah  kita perlu beri pujian kepada kanak-kanak yang berkelakuan baik dan tegur jika salah. Guru sebagai model moral dan budaya.  Guru berperanan sebagai pembimbing dan pelajar digalakkan mencari kebenaran sendiri.dan perlu memberi peluang kepada murid menyelidik sendiri.

REALISM

Realism dikenali sebagai materialism/naturalism. Ia hanya melihat alam kebendaan iaitu fizikal sebagai reality   Oleh itu apa sahaja yang diluar alam fizikal dianggap bukan reality. Aristotle mengganggap reality hanya kebendaan sahaja yang nyata dan reality adalah kebendaan dan kerohanian. Semua benda termasuk fikiran dan kerohanian adalah reality. Pendidikan merupakan proses membangunkan seseorang bagi membolehkannya mengenali kebenaran.matlamat pendidikan adalah memperolehi pengetahuan mengenai alam dan bagaimana dunia bekerja. Menurut pandangan realis,kurikulum perlu mengandungi kemahiran membaca dan mengira bagi membantu pelajar mengetahui budaya dalam bentuk bertulis.prinsip asas sains bagi memperkenalkan pelajar aturan alam semulajadi. Secara umumnya realis melihat pendidikan sebagai berpusatkan disiplin dan berpusatkan guru. Guru sebagai orang yang bertanggungjawab menyampaikan kebenaran. Guru perlu patuh terhadap disiplinnya dan perlu membawa kebenaran sebaik mungkin. Pada pandangan saya,pendidikan digambarkan sebagai tradisi iaitu berpusatkan disiplin dan berorientasikan guru. Tujuan pendidikan adalah untuk membina dalaman pelajar agar mempunyai tabiat belajar sendiri.

PRAGMATISM

Aliran pragmatism dibentuk oleh ahli falsafah Amerika Syarikat. Falsafah ini dikenali sebagai eksperimentalism, empirisisme, instrumentalism dan fungsionalisme. Mereka percaya bahawa pengalaman manusia menggambarkan reality. Pragmatism berpegang kepada pengalaman dan pengalaman manusia berdasarkan reality. Falsafah ini memberi tumpuan yang lebih kepada aspek epistemology dan aksiologi. Ia sentiasa berubah dan boleh diperturunkan satu benda ke satu benda. Dari segi metafizik, idea manusia adalah neutral  Reality adalah interaksi antara manusia dan alam sekeliling. Aspek aksiologi pula percaya bahawa nilai adalah relative dan tidak berubah apabila amsyarakat berubah.

Dalam pendidikan, sesuatu disiplin mestilah tidak bertentangan dengan minat pelajar. Kanak-kanak belajar dari sifat ingin tahu dan tidak semestinya mengikut prinsip moral yang telah ditetapkan. Kita belajar membuat keputusan terhadap tindakan moral supaya dapat diterima orang lain. Mengikut perspektif pragmatisme, guru menggalakkan pelajarnya melibatkan diri dalam proses pengajaran iaitu belajar yang ingin kita tahu. Guru mestilah wujudkan situasi pengajaran yang berkaitan dengan masalah tertentu pada pandanagn saya, pelajar akan dianggap sebagai organisme aktif yang berusaha secara berterusan untuk membentuk pengalaman. Selain itu,pelajar akan lebih memahami tentang alam social dan fizikal sekeliling mereka apabila cuba menyelesaikan masalah dan pelajar akan belajar mengenai alam ini apabila ia terjadi pada dirinya. Kesimpulannya semua pelajaran akan menjadi mudah jika palajar berminat dan mempunyai semangat inkuiri yang tinggi dalam diri. Saya berpendapat aliran ini lebih sesuai digunakan di sekolah dan kita menggunakan dalam system pendidikan.

EKSISTENSIALISM

Menurut pandangan ahli falsafah barat.eksistensialism ini terlalu individualistic dan terlalu bergantung atas factor yang terlalu sujektif. Manusia bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri untuk menetapkan matlamat dan membuat keputusan yang bebas daripada norma-norma masyarakat. Pada pandangan saya, falsafah ini bertentangan dengan idealisme dan realisme  kerana ia lebih mengutamakan pengalaman yang diperolehi daripada deria. Hal ini kerana kita tidak tahu sama ada pengalaman itu betul atau salah. Kebanyakan idea beasal daripada laissez-faire. Aliran ini lebih kepada kehendak inidividu itu sendiri. Ia terpulang kepada diri sendiri tidak tertakluk pada orang lain tertakluk kepada penilaian tafsiran sendiri. Maksudnya manusia bebas membuat pilihan sendiri dan buat pilihan hala tuju diri sendiri. Ia tidak bergantung pada masa lampau. Aspek epistemology pula berpendapat pengetahuan seseorang berpunca daripada pengalamannya. Apa yang dilihat akan beri makna kepada pemahaman sendiri  Saya berpendapat aliran ini tidak sesuai dengan system dinegara kita kerana kita tidak tahu samaada tindakan itu betul atau salah. Kebanaran mutlak tidak wujud.contohnya kita kata manusia adalah manusia tetapi eksistensialisme mempersoalkan bagaimana manusia berada dan tujuan apa. Aksiologi pula menyatakan kebenaran  bergantung kepada individu iaitu kebebasan berfikir mengikut apa yang dirasakan betul. Contohnya kita dipenuhi produk zaman saintifik seperti televisyen tetapi sumbangan teknologi tidak semestinya positif bagi individu tertentu.

System pendidikan, tiada falsafah di sekolah. Oleh itu,ada individu yang menentang kuasa-kuasa yang menafikan kebebasannya.Pelajar mesti didorong untuk megenali dan memahami kebebasan mereka sebagai manusia. Guru mesti menghormati kebebasan pelajar. Guru tidak boleh mengenakan tindakan disiplin tetapi guru meminta setiap pelajar menerima disiplin yang dianggap berfaedah baginya. Pada pendapat saya sisitem pendidikan ini tidak sesuai dalam Negara kita kerana ia lebih kepada kewujudan individu. Pelajar bebas belajar dan hanya diperhatikan oleh guru dan guru perlu menghormati kebebasan pelajar.

Falsafah Pragmatik

22 Apr

FILSAFAT PENDIDIKAN PRAGMATISME

BAB I
PENDAHULUAN

Sejarah Pragmatisme
Aliran ini pertama kali tumbuh Di Amerika pada tahun 1878. Ketika itu Charles Sanders Pierce (1839 – 1914) menerbitkan sebuah makalah yang berjudul “How to Make Our Ideas Clear”.Namun pragmatisme sendiri lahir ketika William James membahas makalahnya yang berjudul ” Philosophycal Conceptions and Practical Result” (1898) dan mendaulat Pierce sebagai Bapak Pragmatisme.
Selanjutnya aliran ini makin berkembang berkat kerja keras dari William James dengan berbagai karya tulisnya. Karya tulisnya itu antara lain adalah, “A Pluralistic Essay”, “Essay in Radical Empiricism”, “The Will to Believe”, dan “The Varieties of Religious Experience”.
John Dewey juga ikut mengambil bagian dalam mempopulerkan aliran ini. Karya – karyanya antara lain adalah “Democracy and Education”, “Reconstruction in Philosophy”, “How We Think”, dan “Experience in Education”. Namun ia dan para pengikutnya lebih suka menyebut filsafatnya sebagai Instrumentalisme.

Konsep Pragmatisme
Pragmatisme berasal dari dua kata yaitu pragma dan isme. Pragam berasal dari bahasa Yunani yang berarti tindakan atau action. Sedangkan pengertian isme sama dengan pengertian isme – isme yang lainnya yang merujuk pada cara berpikir atau suatu aliran berpikir. Dengan demikian filsafat pragmatisme beranggapan bahwa fikiran itu mengikuti tindakan.
Pragmatisme menganggap bahwa suatu teori dapat dikatakan benar apabila teori itu bekerja. Ini berararti pragmatisme dapat digolongkan ke dalam pembahasan tentang makna kebenaran atau theory of thurth. Hal ini dapat kita lihat dalam buku William James yang berjudul The Meaning of Thurth.

Menurut James kebenaran adalah sesuatu yang terjadi pada ide. Menurutnya kebenaran adalah sesuatu yang tidak statis dan tidak mutlak. Dengan demikian kebenaran adalah sesuatu yang bersifat relatif. Hal ini dapat dijelaskan melalui sebuah contoh. Misalnya ketika kita menemukan sebuah teori maka kebenaran teori masih bersifat relatif sebelum kita membuktikan sendiri kebenaran dari teori itu.
Dalam The Meaning of The Truth (1909), James menjelaskan metode berpikir yang mendasari pandangannya di atas. Dia mengartikan kebenaran itu harus mengandung tiga aspek. Pertama, kebenaran itu merupakan suatu postulat, yakni semua hal yang di satu sisi dapat ditentukan dan ditemukan berdasarkan pengalaman, sedang di sisi lain, siap diuji dengan perdebatan. Kedua, kebenaran merupakan suatu pernyataan fakta, artinya ada sangkut pautnya dengan pengalaman. Ketiga, kebenaran itu merupakan kesimpulan yang telah diperumum (digeneralisasikan) dari pernyataan fakta.
Yang lebih menarik lagi adalah pragmatisme menjadikan konsekuensi – konsekuensi praktis sebagai standar untuk menentukan nilai dan kebenaran.

Menurut aliran ini hakikat dari realiatas adalah segala sesuatu yang dialami oleh manusia. Ia berpendapat bahwa inti dari realiatas adalah pengalam yang dialami manusia. Ini yang kemudian menjadi penyebab bahwa pragmatisme lebih memperhatikan hal yang bersifat keaktualan sehingga berimplikasi pada penentuan nilai dan kebenaran. Dengan demikian nilai dan kebenaran dapat ditentukan dengan melihat realitas yang terjadi di lapangan dan tidak lagi melihat faktor – faktor lain semisal dosa atau tidak.
Hal ini senada dengan apa yang dikataka James, “Dunia nyata adalah dunia pengalaman manusia.”

BAB II
PEMBAHASAN

Filsafat Pendidikan Pragmatisme
Pendidikan menurut pandangan pragmatisme bukan merupakan suatu proses pembentukan dari luar, dan juga bukan merupakan suatu pemerkahan kekuatan- kekuatan laten dengan sendirinya ( unfolding ), melainkan merupakan suatu proses reorganisasi dan rekonstruksi dari pengalaman- pengalaman individu, yang berarti bahwa setiap manusia selalu belajar dari pengalamannya.
Menurut Jhon Dewey ( Sadulloh, 2003 ), pendidikan perlu didasarkan pada tiga pokok pikiran yaitu :
1. Pendidikan merupakan kebutuhan untuk hidup
2. Pendidikan sebagai pertumbuhan
3. Pendidikan sebagai fungsi sosial

Hidup selalu berubah menuju pembaharuan hidup, karena itu pendidikan adalah merupakan kebutuhan untuk hidup. Pendidikan berfungsi sebagai sebagai alat dan sebagai pembaharuan hidup. Dalam hidupnya manusia selalu berinteraksi, inividu yang satu dengan individu yang lainnya, dan dengan lingkungannya. Orang yang sudah dewasa yang telah banyak memiliki pengalaman hidup berinteraksi dengan manusia muda yang masih belia dalam pengalaman hidup untuk mewariskan nilai- nilai budaya dan kebudayaan itu sendiri untuk kelangsungan hidup. Terjadilah pewarisan kebudayaan, nilai, pengetahuan, dan ketrampilan serta sikap hidup kepada generasi muda. Hal ini membawa pembaharuan hidup pada generasi muda, dan pembaharuan ini akan semakin pesat perubahannya oleh karena perubahan yang terjadi dalam hidup dan kehidupan manusia dengan pengaruh ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang semakin pesat perubahannya. Untuk mengisi dan melengkapi kehidupan yang selalu berubah dan perkembangan maka sangat di perlukan adanya pendidikan.

1. Pendidikan Sebagai Pertumbuhan.
Menurut Jhon Dewey ( sadulloh. 2003 ), pertumbuhan merupakan suatu perubahan tindakan yang berlangsung ters menerus untuk mencapai hasil lanjutannya. Pertumbuhan juga merupakan proses pematangan oleh karena peserta didik memiliki potensi berupa kapasitas untuk berkembang atau bertumbuh menjadi sesuatu dengan adanya pengaruh lingkungan.

Hidup selalu mengalami pertumbuhan danpertumbuhan diwarnai oleh aktivitas aktif , yang berati bahwa pertumbuhan akan dipengaruhi intetitas aktivitas individu yangmenimbulkan pengalaman yang akan membawa perubahan pada dirinya. Sehigga pertumbuhan merupakan karakteristik dari hidup, sedangkan pendidikan adalah hidupitu sendiri, bukan untuk suatu persiapan.

2. Pendidikan Sebagai Fungsi sosial
Menurut Jhon Dewey ( sadulloh.2003 ) lingkungan merupakan syarat bagi pertumbuhan, dan fungsi pendidikan merupakan suatu proses membingbing dan mengembangkan. Melalui kegiatan pendidikan masyarakat membingbing peseta didik yang maih belum matang menurut susunan sosial tertentu. Dalam keadaan yang belum matang peserta didik selalu berinteraksi dengan linkungan, selalu berhubungan dengan individu lainnya. Dalam aktivitas pendidikan selalu ada interaksi yang dapat mempengaruhi dan membimbing peserta didik dapat mengembangkan diri sebagai pribadi yang dipengaruhu dan mempengaruhi dalam situasi dan lingkungan sosial.
Sekolah sebagai suatu lingkungan pendidikan dan sekaligus sebagai alat tranmisi,memiliki tiga fungsi, yakni :
1. Menyederhanakan dan mengarahkan faktor – faktor bawaan yang diharapkan untuk berkembang.
2. Membingbing dan mengarahkan kebiasaan masyarakat yang ada sesuai dengan yang mengharapkan.
3. Menciptakan suatu lingkungan yang lebih luas, dan lebih baik yang diperuntukan bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan mereka.

3. Tujuan Pendidikan
Filsuf paragmatisme berpendapat bahwa pendidikan harus mengajarkan seseorang tentang bagaimana berfikir dan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Sekolah harus bertujuan untuk mengembangkan pengalaman-pengalaman yang akan memungkinkan seseorang terarah kepada kehidupan yang baik. Tujuan-tujuan pendidikan tersebut meliputi
• Kesehatan yang baik
• Keterapilan-keterampian dan kejujuran dalam bekerja
• Minat dan hobi untuk kehidupan yag menyenangkan
• Persiapan untuk menjadi orang tua
• Kemampuan untuk bertransaksi secara efektif dengan masalah-masalah sosial

Tambahan tujuan khusus pendidikan di atas yaitu untuk pemahaman tentang pentingnya demokrasi. Menurut pragmatisme pendidikan hendaknya bertujuan menyediakan pengalaman untuk menemukan/memecahkan hal-hal baru dalam kehidupan peribadi dan kehidupan sosial.
2. Kurikulum
Menurut para filsuf paragmatisme, tradisis demokrasi adalah tradisi memperbaiki diri sendiri (a self-correcting trdition). Pendidikan berfokus pada kehidupan yang aik pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Kurikilum pendidikan pragmatisme “berisi pengalaman-pengalaman yang telah teruji, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Adapun kurikulum tersebut akan berubah”
3. Metode Pendidikan
Ajaran pragmatisme lebih mengutamakan penggunaan metode pemecahan masalah (problem solving method) serta metode penyelidikan dan penemuan (inquiri and discovery method). Dalam praktiknya (mengajar), metode ini membutuhkan guru yang memiliki sifat pemberi kesempatan, bersahabat, seorang pembimbing, berpandangan terbuka, antusias, kreatif, sadar bermasyarakat, siap siaga, sabar, bekerjasama, dan bersungguh-sungguh agar belajar berdasarkan pengalaman dapat diaplikasikan oleh siswa dan apa yang dicita-citakan dapat tercapai.

4. Peranan Guru dan Siswa

Dalam pembelajaran, peranan guru bukan “menuangkan” pengetahuanya kepada siswa. Setiap apa yang dipelajari oleh siswa haruslah sesuai dengan kebutuhan, minat dan masalah pribadinya. Pragmatisme menghendaki agar siswa dalam menghadapi suatu pemasalahan, hendaknya dapat merekonstruksi lingkungan untuk memecahkan kebutuhan yang dirasakannya.
Untuk membantu siswa guru harus berperan:
a. Menyediakan berbagai pengalaman yang akan memuculkan motivasi. Field trips, film-film, catatan-catatan, dan tamu ahli merupakan contoh-contoh aktivitas yang dirancang untuk memunculkan minat siswa.
b. Membimbing siswa untuk merumuskan batasan masalah secara spesifik
c. Membimbing merencanakan tujuan-tujuan individual dan kelompok dalam kelas guna
memecahkan suatu masalah
d. Membantu para siswa dalam mengumpulkan informasi berkenaan dengan masalah.
e. Bersama-sama kelas mengevaluasi apa yang telah dipelajari, bagaimana mereka mempelajarinya, dan informasi baru yang ditemukan oleh setiap siswa.

Edward J. Power (1982) menyimpulkan pandangan pragmatisme bahwa “Siswa merupakan organisme rumit yang mempunyai kemampuan luar biasa untuk tumbuh, sedangkan guru berperan untuk memimpin dan membimbing pengalaman belajar tanpa ikut campur terlalu jauh atas minat dan kebutuhan siswa”.

Callahan dan Clark menyimpulkan bahwa orientasi pendidikan pragmatisme adalah progresivisme. Artinya, pendidikan pragmatisme menolak segala bentuk formalisme yang berlebihan dan membosankan dari pendidikan sekolah yang tradisional. Anti terhadap otoritarianisme dan absolutisme dalam berbagai bidang kehidupan.

FALSAFAH PENDIDIKAN EKSISTENSIALISME

Aliran pemikiran eksistensialisme ini muncul pada abad ke-19 dan ke-20 dan di pelopori oleh seorang berketurunan Yahudi, Jean-Paul Satre (Kailani, 2002). Mazhab ini juga didukung oleh individu seperti: ahli falsafah dan teologi Denmark, Soren Kierkegaard (1813-55), tokoh atheis Jerman, Friedrich Nietzsche (1844-1900), ahli ontologi Jerman, Martin Heidegger (1889-1976), ahli falsafah Katolik Perancis, Gabriel Marcel (1889-1973), ahli falsafah dan pakar psikiatri Jerman, Karl Jaspers (1883-1969), novelis dan ahli falsafah Perancis, Simone de Beauvoir (1908-86) dan ahli fenomenologis Perancis, Maurice Merleau-Ponty (1908-61) (Priest, 2001).
Aliran mazhab eksistensialisme ini berfokuskan kepada fitrah kewujudan manusia. Dengan kata lain, manusia dianggap sebagai dilahirkan tanpa sebarang tujuan (Keow, 2008). Adakah anda bersetuju? Ahli-ahli eksistensialisme dan para pengikutnya hanya melihat realiti sebagai sesuatu yang bersifat subjektif dan hanya boleh didefinisikan oleh individu yang berkenaan sahaja.
Aliran mazhab ini mula memasuki aliran pemikiran masyarakat lewat tahun-tahun selepas Perang Dunia Kedua. Satre mula menggunakan perkataan ‘existentialism’ atau eksistensialisme dalam satu kuliahnya yang terkenal iaitu pada Oktober 1945 yang bertajuk Existentialisme and Humanism (L’Existentialisme est un Humanisme).Berdasarkan kuliah yang diberikan oleh Satre, aliran pemikiran ini berpandangan bahawa seseorang individu seharusnya bertanggungjawab ke atas diri sendiri dan mempunyai kebebasan untuk menentukan matlamat serta membuat keputusan sendiri tanpa merujuk sebarang autoriti luar.
Berdasarkan konsep di atas, sistem sekolah atau guru tidak mempunyai hak untuk menekankan matlamat pendidikan ke atas murid. Oleh hal yang demikian matlamat pendidikan tidak digariskan. Selain hal itu, mazhab ini juga tidak menggariskan subjek-subjek yang perlu diajarkan di sekolah. Walaubagaimanapun, subjek-subjek yang bersifat estetik dan berfalsafah seperti seni, kesusasteraan, dan drama difikirkan relevan.
Dari aspek guru pula, guru berperanan sebagai pemangkin yang menyediakan peluang pendidikan bagi anak murid mereka meluahkan perasaan dan emosi. Guru juga perlu menggunakan teknik atau kaedah pengajaran dan pembelajaran yang berpusatkan aktiviti serta berpusatkan murid-murid. Sejajar dengan kaedah yang digunakan oleh guru, murid-murid pula perlu melibatkan diri secara aktif agar dapat memaksimumkan peluang pendidikan yang disediakan. Untuk lebih memahami lagi asimilasi aliran mazhab ini dalam konteks pendidikan, cuba fahami situasi ini.
Hari ini, Cikgu Reeni mengajar tentang haiwan yang
memakan daging. Esok Cikgu Reeni bercadang untuk
mengajar tentang haiwan pula. Untuk itu, Cikgu Reeni
bertanyakan kepada anak muridnya jika mereka mahu
belajar tentang haiwan herbivor pula. Jika semua muridnya
bersetuju, Cikgu Reeni memberi arahan kepada anak
muridnya agar datang ke kelasnya pada esok hari dengan
membawa bahan-bahan yang telah diambil dari buku,
internet, majalah dan sebagainya.

Daripada situasi di atas dapatlah dirumuskan bahawa Cikgu Reeni menggunakan falsafah eksistensialisme dalam proses pengajaran dan pembelajarannya dengan memberi kebebasan kepada anak muridnya untuk memilih tajuk yang ingin dipelajari dan bebas memilih bahan yang ingin digunakan semasa P&P nanti.

KENAPA PENDIDIKAN TEKNIK ?

22 Apr

KENAPA PENDIDIKAN TEKNIK ?

  1. Mengurangkan kadar keciciran dari sistem persekolahan
  2. Menambahkan modal insan yang berkemahiran untuk membangunkan negara dan diri mereka sendiri.
  3. Mencapai hasrat negara  iaitu negara perindustrian
  4. Memenuhi keperluan tenaga bukan dari segi kuantiti tetapi juga kualiti
  5. Mengaplikasikan pelajar kepada persekitaran sebenar – proaktif, kreatif,berdaya saing, inovatif dan berdikari.
  6. Memberi ruang kepada pelajar untuk memilih mengikut minat mereka.

Pembangunan Kurikulum

22 Apr

1             Kurikulum

Perkataan kurikulum berasal dari perkataan Latin yang merujuk kepada ‘laluan dalam sesuatu pertandingan. Berdasarkan kepada konsep tersebut , perkataan kurikulum adalah berkait rapat dengan perkataaan ‘laluan atau laluan-lauan’. Sehingga awal abad ke 20, kurikulum merujuk kepada kandungan dan bahan pembelajaran yang berkembang iaitu ‘apa itu persekolahan’. Ahli progresif dan behaviouris pada lewat abad ke 19 dan abad ke 20 membincangkan tentang  kurikulum dengan memasukkan unsur-unsur seperti kepelbagaian, keperluan masyarakatan dan strategi-strategi pengajaran.

Frank Bobbit (1918), dalam buku ‘The Curriculum’ menghuraikan kurikulum sebagai :

i)                   keseluruhan pengalaman, yang tak terarah dan terarah, terumpu kepada perkembangan kebolehan individu atau

ii)                satu siri latihan pengalaman langsung secara sedar digunakan oleh sekolah untuk melengkap dan menyempurnakan pendedahannya. Konsep beliau menekankan kepada pemupukan perkembangan individu melalui segala pengalaman termasuk pengalaman yang dirancangkan oleh sekolah.

John Dewey (1902,halaman 5) dalam bukunya ‘The Child and The Curriculum’ merujuk istilah kurikulum sebagai  “pengajian di sekolah dengan mengambil kira kandungan dari masa lampau hingga masa kini’. Pembentukan kurikulum menekankan kepetingn dan keperluan masyarakat. Beliau selanjutnya menghuraikan konsep ini dalam bukunya ‘Democracy and Education’ (1916, halaman 125). Dewey menyatakan bahawa skema kurikulum harus mengambil kira penyesuaian pembelajaran dengan keperluan sesebuah komuniti; ia harus membuat pilihan dengan niat meningkatkan kehidupan yang dilalui supaya masa depan akan menjadi lebih baik dari masa lampau. Di sini, elemen rekonstruksionism social dapat dikesan dengan melihat kea rah mana keperluan masyarakat diletakkan sebagai objektif utama, tanpa menafikan kepentingan individu.

Diantara lain definisi kurikulum adalah seperti berikut :

-urutan pengalaman yang ditetapkan oleh sekolah untuk mendisiplinkan cara berfikir dan bertindak (Valiga, T & Magel, C., 2001)

-isi kandungan dan proses formal dan tidak formal yang mana pelajar memperolehi ilmu dan kefahaman, mengembangkan kemahiran dan mengubah sikap serta menghargai dan mempelajari nilai-nilai murni di sekolah (Doll, R.

1996)

-pengalaman pembelajaran yang dirancang dan dibimbing serta hasil pembelajaran yang diinginkan, yang dibentuk secara sistematik dengan pembinaan semula ilmu dan pengalaman di sekolah, bagi pertumbuhan dalm hal kecekapan sosial peribadi secara berterusan dan bersungguh-sungguh

-kurikulum sekolah adalah satu siri peristiwa yang terancang yang bertujuan untuk memberi kesan pendidikan kepada murid di sekolah

-kurikulum seharusnya mempunyai matlamat awalan untuk dicapai, isi kandungan, proses dan pengalaman yang dipilih untuk memudahkan pembelajaran; tahap tanggungjawab yang perlu di ambil oleh guru dan pelajar untuk pembelajaran; bagaimana dan dimana kurikulum dilaksanakan (Dillard & Laidig, 1998)

-Menurut Laporan Jawatan Kuasa Kabinet 1979, dalam konteks Malaysia , kurikulum boleh didefinisikan sebagai :

Semua perancangan pendidikan yang dilaksanakan oleh sekolah atau institusi pendidikan adalah untuk mencapai matlamat pendidikan. Kurikulum mengandungi dua aspek :

-sukatan dan kandungan mata pelajaran dengan aktiviti pengajaran dan pembelajaran

-kurikulum seperti sukan, persatuan dan unit beruniform

 

-Mengikut Akta Pendidikan 1996; Pendidikan (Peraturan Kurikulum Kebangsaan) 1997 mendefinisikan Kurikulum Kebangsaan sebagai :

 

’program pendidikanyang merangkumi aktiviti kurikulum dan kokurikulum yang mencakupi semua ilmu pengetahuan, kemahiran, norma, nilai, elemen budaya dan kepercayaan untuk membantu mengembangkan murid sepenuhnya dari aspek fizikal, rohani, mental dan emosi serta memupuk dan memperkembangkan nilai murni yang diingini serta untuk menyebarkan ilmu pengetahuan’

 

Umumnya, bagaimanakah anda mendefinisikan kurikulum? Carta berikut mungkin dapat membantu anda memperoleh pengertian konsep dan kurikulum.

Konsep Umum Kurikulum

Konsep kurikulum dapat dijelaskan dengan lebih baik lagi melalui cara bagaimana sekolah menjawab sembilan soalan kurikulum yang berikut ini :

  1. Apakah yang harus diajar ?
  2. Kepada siapa ia harus diajar ?
  3. Mengapa ia harus diajar ?
  4. Bagaimana ia harus diajar ?
  5. Bila (berapa lama dan bagaimana susunannya?) harus ia diajar?
  6. Bagaimana kita harus tahu bahawa pembelajaran telah berlaku?
  7. Apakah sumber yang akan digunakan (buku teks, bahan, video dll)?
  8. Dalam keadaan bagaimanakah kurikulum akan dilaksanakan? Apakah kumpulan (kooperatif, homogenous, individu) yang akan digunakan?
  9. Apakah aspek situasi bilik darjah (susunan meja kerusi,ekologi bilik darjah) yang akan digambarkan dalam kurikulum?

2.0      Jenis-Jenis Kurikulum

Apakah jenis kurikulum yang anda tahu ? Sebenarnya terdapat dua jenis kurikulum utama iaitu kurikulum formal dan tersembunyi.

Kurikulum formal ialah rancangan di mana aktiviti pembelajaran dijalankan supaya matlamat atau objektif pendidikan dan sekolah tercapai. Ia merupakan satu set dokumen untuk dilaksanakan. Ia mengandungi hal sebenar yang berlaku dibilik darjah dan apa yang telah disediakan dan dinilai. Setiap sekolah ada kurikulum terancang iaitu  satu set objektif yang berstruktur dengan kandungan dan pengalaman belajar serta hasil yang dijangkakan. Ia merupakan rancangan eksplisit dan operasional yang dihasratkan, lazimnya dikelolakan mengikut mata pelajaran dan gred, di mana peranan guru didefinisikan dengan jelas (Ornstein, A.C. & Hunkins, F, 1983)

Kurikulum tersembunyi adalah sesuatu yang tidak terancang dan tidak formal. Ia mungkin disebut sebagai kurikulum ”tak rasmi” atau ”terlindung” atau ”tak formal”. Kurikulum ini dikelolakan di luar konteks pengajaran rasmi. Ia merupakan perlakuan dan sikap yang dibawa kedalam bilik darjah dan sekolah tanpa disedari dan disebut kerana tidak dinyatakan secara eksplisit. Ia terdiri dari peraturan tidak bertulis, konvokesyen, adat resam dan nilai budaya. Ia dibentuk oleh faktor-faktor seperti status sosioekonomi dan latar belakang pengalaman guru dan murid.

Jadi apakah peranan anda sebagai guru dalam kurikulum tersembunyi? Anda harus berupaya untuk mengenalpasti aspek-aspek kurikulum tersembunyi, terutamanya kemungkinan ketidakfungsiaan potensi atau pengalaman pembelajaran negatif dan di mana-mana kemungkinanan untuk mengawal dan memperbaiki situasi.

Huraian ringkas yang berikut membolehkan anda membezakan antara pelbagai jenis kurikulum.

Kurikulum Bertulis/Yang Dihasratkan

–         kurikulum yang dimuatkan dalam panduan kurikulum negeri dan daerah seperti Kurikulum Kebangsaan iaitu KBSR/KBSM/Kurikulum Pra-Sekolah

Kurikulum Cadangan

–         kurikulum yang dicadangkan oleh pakar-pakar pendidik, pertubuhan profesional, suruhanjaya pembentuk dan pembuat dasar

Kurikulum Masa Depan

–         merangkumi pendekatan berpusatkan murid yang membolehkan mereka memahami kekuatan dan kelamahan masing-masing serta berupaya belajar sepanjang hayat

–         pengalaman belajar direka untuk membantu murid menyepadukan pengetahuan baru dan memurnikan bagi melahirkan celik akal melalui banding beza, membuat induksi, deduksi dan menganalisis

–         pengalaman belajar memberikan murid peluang untuk menggunakan pengetahuan secara bermakna bagi membolehkan mereka membuat keputusan dan untuk membentuk pmikiran kritikal, kreatif dan futurisitik serta penyelesaian masalah seperti Kajian Masa Depan

–         3 pendekatan boleh digunakan untuk melaksanakan visi ini :

-kandungan akan dibekalkan melalui pelbagai cara penyampaian dengan menggunakan pelbagai strategi

-kurikulum akan dibina sebagai modul dan diakses melalui rangkaian jaringan

-bahan, pengalaman dan sokongan akan diperolehi daripada pelbagai sumber dan disepadukan ke dalam struktur teras kurikulum

Kurikulum Sokongan

–         kurikulum yang digambarkan dan dibentuk oleh sumber yang disediakan untuk menyokong atau menyampaikan

Kurikulum Tersembunyi

–         terletak diluar konteks pengajaran rasmi, belajar secara implisit

–         mengandungi peraturan tak bertulis. Konvensi, adat resam, nilai budaya yang dikenali sebagai sekolah, sperti sopan santun, menjaga kebersihan dan jujur

–         dibentuk oleh faktor  seperti sosioekonomi dan latar belakang pengalaman dan murid

Kurikulum Yang Di Ajar

–         kurikulum yang dapat di lihat ketika memerhati pengajaran guru

Kurikulum Yang Di Uji

–         set pembelajaran yang dinilai dalam ujian yang digubal oleh guru , ujian dibina di peringka daerah dan ujian piawaian

Kurikulum Yang Di Alami/Di Pelajari

–         semua perubahan pada nilai, persepsi dan tingkah laku yang berlaku adalah hasil daripada pengalaman persekolahan

Hubungan kurikulum boleh dijelaskan melalui rajah yang berkaitan dengan lapisan kurikulum

3.0  Model Kurikulum

Terdapat pelbagai model kurikulum yang dibincangkan oleh Raplh Tyler (1949), Hilda Taba (1966) , Stenhouse (1975) dan Stake (1976).

a)     Model Perkembangan Tyler

Berdasarkan 4 persoalan asas

i)                   Apakah tujuan pendidikan yang perlu dicapai oleh sekolah?

ii)                Apakah pengalaman pendidikan yang boleh diberikan yang mungkin dapat mencapai tujuan tersebut ?

iii)              Bagaimanakah pengalaman pendidikan ini boleh disusun secara berkesan?

iv)               Bagaimanakah dapat kita tentukan sama ada tujuan ini boleh dicapai atau sebaliknya?

Penekanan pada pembentukan objektif tingkah laku sebagai tujuan sebenar pendidikan bukanlah untuk guru melakukan sesuatu aktiviti tetapi untuk membawa perubahan signifikan dalam pola tingkah laku murid. Adalah penting untuk mengenal pasti bahawa sebarang pernyataan objektif sekolah adalah merupakan pernyataan perubahan yang berlaku dikalangan murid

Adalah sistematik dan memberi panduan yang kukuh untuk menentukan objektif tingkah laku dan menyediakan hasilan yang jelas supaya kandungan kurikulum dan kaedah penyampaian dapat disusun dan hasilannya boleh dinilai.

b)    Model Perkembangan Taba

Kurikulum sebagai rancangan untuk bertindak

Pendekatan bawah keatas (bottoms-up) terhadap kurikulum di mana guru memainkan peranan utama

Peraturan tertentu untuk membina kurikulum dan guru harus membantu dalam proses perkembangannya

7 langkah dalam perkembangan kurikulum adalah :

i)       mendiagnosis keperluan

ii)      pembentukan objektif

iii)              pemilihan kandungan

iv)               pengurusan kandungan

v)                 pemilihan pengalaman pembelajaran

vi)               pengelolaan aktiviti pembelajaran

vii)            penilaian

c)     Model Perkembangan Stenhouse

Kurikulum sebagai satu proses

Kurikulum bukan berbentuk fizikal tetapi berkaitan dengan interaksi guru, murid dan ilmu

Kurikulum adalah perkara sebenar yang berlaku dalam bilik darjah dan dilakukan oleh seseorang untuk membuat persediaan dan penilaian

Proses yang aktif dan dihubungkaitkan dengan  set penaakulan praktikal Aristotle

Cubaan penyampaian prinsip-prinsip dan ciri-ciri pendidikan dalam satu bentuk terbuka untuk penilitian kritis dan boleh diterjemahkan kebentuk prakital

Perlu penyediaan asas untuk merancang sesuatu kursus , mengkaji secara emperikal dan mempertimbangkan alasan secara  praktikal. Ia harus menawarkan :

a)     Perancangan

–         prinsip pemilihan kandungan – apa yang perlu diajar dan dipelajari

–         prinsip perkembangan startegi pengajaran  – bagaimana ia dipelajari dan diajar

–         prinsip membuat keputusan tentang urutan

–         panduan untuk guru bagi kesesuaian untuk melaksanakan kurikulum  dalam pelbagai konteks

–         maklumat tentang kepelbagaian kesan dalam konteks yang berbeza

Justifikasi : bermatlamatkan mudah diakses untuk diteliti dan dikritik

Melihat Kurikulum sebagai sesuatu bentuk spesifikasi tentang amalan pengajaran

Hasil kurikulum ini adalah hasil perkembangan kandungan dan cara daripada kerjasama antara guru dan murid

Pembelajaran adalah berpusatkan murid dengan fokusnya adalah interaksi ; proses pembelajaran merupakan fokus utama guru

4.0 Faktor Mempengaruhi Pembentukan dan Perubahan Kurikulum

2.0            Rumusan

Kurikulum adalah rancangan untuk pembelajaran. Semua rancangan mengandungi visi yang mentakrifkan nilai sosial dan struktur yang diterjemahkan ke dalam pengalaman. Perkembangan kurikulum ialah proses yang dinilainya diterjemah dan disusun ke dalam pengalaman pembelajaran.

Perkembangan kurikulum, sebagai satu proses , merupakan putaran asas yan mengandungi : menganalisis, mereka bentuk, melaksanakan dan menilai.  Proses ini digunakan di semua peringkat dalam pembentukan konsep dan menyepadukan semua usaha untuk meningkatkan kualiti program persekolahan.

Kurikulum ialah segala pengalaman pembelajaran yang dirancang dan diarahkan oleh sebuah sekolah untuk mencapai matlamat pendidikan.

Dibawah kurikulum akademik, terdapat pelbagai jenis kurikulum, seperti kurikulum integrasi, teras dan aktiviti atau pengalaman yang dapat digabungkan untuk membentuk kurikulum formal.

Pembentukkan dan perubahan dalam kurikulum dipengaruhi oleh polisi-polisi kerajaan, matlamat dan keutamaan program, keperluan negara dan masyarakat, keperluan individu serta keperluan menyeluruh.